Tease-y Taste




Project #3: Negara Asal Pho

Sekitar seminggu yang selalu, saya menyempatkan diri bertandang ke negara asal Pho, Vietnam. Begitu saya tiba di Than Son Nhat Airport (Ho Chi Minh City / Saigon), hal pertama yang terpikirkan adalah saya harus segera mencicipi masakan khas Vietnam yang satu itu.

Pho sendiri sebetulnya sudah marak di Indonesia. Di Jakarta sendiri mudah ditem
ui restoran yang mengunggulkan menu masakan Vietnam ini. Tapi bagaimanapun juga, esensi yang dirasakan ketikan mencicipi makanan langsung di negara asalnya pasti menimbulkan euphoria yang berbeda! :D

Bagi yang belum tau apa itu Pho, saya akan menjelaskan secara singkat tentang Pho. Pho merupakan kuliner khas Vietnam, berupa beef rice noodles soup atau bisa juga diganti dengan chicken based pho. Masakan ini terpengaruh kultur Cina dan Perancis. Pho biasa disajikan dengan pilihan sayuran (daun kemangi, ketumbar, tauge) yang bisa ditambahkan sesuai selera. Wangi masakan ini sangat khas, karena kuah kaldunya terbuat dari potongan daging dan tulang sapi yang digodok dengan bumbu-bumbu seperti jahe, kayu manis, dan bunga lawang.

Pho sendiri tersebar di seluruh kota, dari jajanan kaki lima hingga restoran berkelas menuajikan Pho. Harganya pun bervariasi, antara 30.000 VND - 80.000 VND (sekitar Rp 15.000 - Rp 40.000 tergantung restoran)

Favorit saya adalah warung Pho di dekat hostel saya menginap di daerah Pham Ngu Lao, Saigon. Harganya sangat murah untuk kantong budget traveller seperti saya. Cukup merogoh 30.000-40.000 VND (Rp 15.000- Rp 20.000) saya dapat menjajal kelezatan Triple Beef Pho. Porsinya pun luar biasa besar dan sangat mengenyangkan! :D

Minumannya pun tidak kalah nikmat. Minuman khasnya adalah Vietnamese Coffee yang merupakan kopi hitam kental, bisa juga dicampur dengan susu. Kopi ini pun tersebar di seluruh penjuru kota, dari mbok-mbok penjaja minuman di taman kota, warung minum di pinggir jalan, sampai kafe elit. Saya sendiri bukanlah penyuka kopi, tapi minuman ini sudah pasti WAJIB dicoba.

Minuman favorit saya jatuh kepada Milk Tea, walaupun agak jarang yang menjual, tapi menurut saya Milk Tea di Vietnam yang paling enak dibanding Thai Milk Tea, Teh Tarik, Chai Milk Tea, atau milk tea lainnya.

Makanan WAJIB lain yang patut dicoba tentu saja Vietnamese Spring Roll. Kemarin saya menyempatkan diri untuk mencicipi Wrap Roll, sebuah restoran yang dengan keunggulan menu-me
nu springrollnya. Dari mulai appetizer, main course, sampai dessertnya semua disajikan dalam bentuk spring roll.

Over all, makanan khas Vietnam sangat menggugah selera!
Berhubung saya gak punya oleh-oleh Pho buat Anda, dokumentasi foto-foto seharusnya cukup untuk membuat ngiler dan mengobati rasa penasaran kan?

Enjoy!

A.





Maras Taun: Warisan Ritual dan Identitas Belitung


Ritual masa lampau yang masih lestari, melakukan sebuah metamorfosa menjadi sebuah pagelaran budaya. Event Maras Taun kini tidak hanya sekedar ayoman para pengurus adat, namun sebuah agenda tingkat nasional, yang kaya akan harta karun identitas bangsa.

Siang itu saya mendaratkan diri di atas dek sebuah kapal nelayan yang biasa dibuat untuk memancing. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di bandara Hanan Joeddin, cuaca di Tanjung Pandan memang sangat terik. Saat itu pukul 12.30, dan sang surya terlihat tidak bermain-main memancarkan sinarnya. Untungnya, saya tidak menghitam sendirian siang itu. kapal yang saya tumpangi adalah satu dari empat kapal penuh yang akan berangkat dari Pelabuhan Pasar Ikan.

Di samping kiri-kanan saya, ikut berdesakkan banyak orang. Di kapal nelayan yang biasa hanya ditumpangi 4-5 orang saja untuk pergi ke tengah laut berburu ikan, kini dipenuhi oleh sekitar 50 orang. Dari puluhan orang itu, saya berada diantara para para lansia, remaja, turis asing hingga anak bayi. Dari mulai tempat yang beratap hingga bagian atap kapal, ludes dipenuhi manusia. Untungnya anak-anak bayi dan balita berhasil diselamatkan dari sengatan panas khatulistiwa, karena langsung diberi tempat yang teduh dan tertutup dari sinar matahari. Saking penuhnya, saya sendiri akhirnya harus menyelipkan badan dan barang bawaan di antara celah antara cerobong kapal. Selain manusia, ikut serta pula berbagai macam barang bawaan. Anda bisa menemukan bahan pangan hingga sepeda motor, yang dijejerkan diatas sebuah kapal nelayan. Saat mesin kapal dinyalakan, terjadi guncangan yang mengagetkan seisi kapal, langsung disusul oleh degupan jantung, sekaligus rasa lega dari dalam diri saya, karena akhirnya setelah menunggu hampir 2 X 60 menit, kapal yang saya tumpangi akhirnya berangkat.

Angin laut sedikit membuat saya melupakan panas yang masih juga menyengat. Justru dari sepanjang perjalanan yang berdurasi hampir tiga jam itu, saya jadi bisa membaur untuk merasakan keriaan rakyat akan perayaan yang menanti mereka di pulau tujuan. Dari keberangkatan saya siang itu, ada sekitar 250 orang yang terbagi menjadi empat kapal nelayan yang berangkat. Di sepanjang perjalanan membelah lautan, beberapa lansia yang terlihat bosa, menyenandungkan nada-nada melayu yang ceria, seraya berbagi cerita melalui nada-nada khas daerah mereka. Antusias masyarakat lokal, dengan sendirinya memancarkan esensi dari event yang akan saya sambangi. Sebuah pesta rakyat telah menanti.

Pada dasarnya, gelaran maras taun tersebar di segala penjuru Belitung. Akan tetapi yang skala acaranya paling besar, dan dari tahun ke tahun menarik perhatian, adalah yang dilaksanakan di Kecamatan Selat Nasik. Kecamatan Selat Nasik sendiri menyita sekitar 6% dari total wilayah Kabupaten Belitung. Pun demikian, atensi masyarakat akan Maras Taun di daerah ini tampaknya terlihat dari kuantitas pendatang dari luar kecamatan yang terbilang banyak. Secara Geografis, Kecamatan Selat Nasik terdiri dari empat kelurahan, yakni: Suak Gaul, Petaling, Selat Nasik, dan yang terakhir Pulau Gersik. Maras Taun itu sendiri diadakan di kelurahan Selat Nasik.

Bersihkan Duri Sepanjang Tahun

Secara Etimologis, frase Maras Taun merupakan sebuah istilah yang erat dengan keseharian rakyat Belitung, yang pada zaman dahulu berprofesi sebagai petani. Maras sendiri, mempunyai pengertian kegiatan membersihkan duri kecil yang terdapat pada tanaman. Sedangkan Taun sendiri, mempunyai arti Tahun. Pengertian ‘membersihkan duri’ ini merepresentasikan kegiatan membersihkan atau menyelesaikan segala persoalan. Jadi bisa disimpulkan, Maras Taun mempunyai pengertian kegiatan membersihkan atau menyelesaikan segalam macam permasalahan yang terjadi sepenjang tahun. Konsep dasar ini, banyak di salah artikan oleh masyarakat awam. Masyarakat awam menganggap Maras Taun hanya sekedar acara syukuran, atas panen yang didapatkan para petani pada tahun yang bersangkutan. Padahal nilai yang dibawa pada Maras Taun, mempunyai esensi yang jauh lebih penting dari sekedar pesta.

Jauh di masa lampau, di setiap desa di Belitung, masyarakat mempunyai lima pilar utama, yang memimpin dan menggerakan kelompok masyarakat. Segala bentuk peradaban dan juga kehidupan, diatur oleh lima sosok terhormat tersebut. Lima posisi itu adalah: Ketua Kampung, Dukun Kampung, Penghulu, Lebai (Pemuka Agama) dan yang terakhir Pengguling (Dukun Beranak). Lima unsur ini memimpin dan mengurus desa, agar segala macam kebutuhan mereka bisa terpenuhi. Di setiap tahunnya, ada periode tertentu, dimana lima pilar kepemimpinan ini melakukan pertanggung jawaban kepada masyarakat. Wilayah desa yang biasa sepi karena ditinggal bertani, menjadi penuh dan sesak, biasanya Maras Taun di masa lampau, dilakukan berbarengan dengan pengumpulan hasil panen para petani. Dari situ timbul anggapan keliru, bahwa maras taun merupakan ritual yang berpusat pada ucapan syukur atas hasil panen. Masyarakat akan menunggu para pengurus Adat memaparkan kondisi desa mereka, ditinjau dari berbagai sisi. Setelah berkumpul, maka para pengurus adat akan menceritakan, apa saja yang terjadi di sepanjang tahun, dari segi kesehatan, kemakmuran. Masing-masing pengurus adat akan berbicara, sesuai dengan perannya di masyarakat. Mereka tidak hanya menceritakan berita-berita baik, kabar-kabar buruk dan kurang mengenakkan pun dipaparkan. Dari kegiatan ini, masyaraka desa akan mencari solusi bersama, dan berusaha untuk memecahkan masalah yang menerpa desa mereka.

Facts: Pembagian dan peraturan mengenai pengurus adat di Belitung, tidak hanya berkisar pada keputusan daerah semata, namun, secara formal diatur dengan perundangan, yaitu Perda no.15 tahun 2000

Tradisi ini diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi, hingga saat ini. Saat ini, ritual Maras Taun sudah meluas kapasitasnya, tidak hanya sekedar acara yang dibentuk oleh para pengurus Adat. Sampai saat ini, ada beberapa pergeseran nilai dari Maras Taun, tanpa harus menghilangkan esensinya dari atas permukaan. Maras Taun kini tidak hanya melibatkan para pengurus adat, namun kepanitiannya mencakup puluhan masyarakat daerah penyelenggaranya.

Saat saya menemui Joniarsyah, atau biasa disebut Pak Jon, dia sedang menyiapkan gladiresik penyambutan rombongan Gubernur Belitung. Tangannya yang kekar ramah menjabat tangan saya, sembari memperkenalkan dirinya. Pak Jon terpilih secara musyawarah sebagai ketua panitia kegiatan Maras Taun tahun ini. Ini kali keduanya dia memimpin dan mengatur acara ini. “walapun kerjanya cukup berat, semua panitia disini bekerja tanpa dipungut biaya sepeserpun,” ujar Pak Jon bersemangat.”saya jamin, semangat kerja seperti ini sudah tidak ada di Ibukota. Hari gini mengharapkan uluran tangan cuma-cuma dari penduduk kota, bisa dibilang sulit, iya kan?” Saya hanya tersenyum dan mengiyakan di dalam hati. Saya berhasil mencuri waktu sedikit untuk berbincang, ketika dia mengantarkan saya ke mess tempat saya bermalam. “Alhamdulilah pengunjung Maras Taun kali ini jumlahnya meningkat tajam. Kami kedatangan tidak hanya masyarakat Belitung, namun turis-turis yang sengaja menyempatkan diri ke Selat Nasik. Bahkan barusan ada tiga orang wisatawan asal Belanda yang datang untuk menyaksikan acara ini,” tutur Pak Jon, sambil berjalan santai.

Acara Maras Taun sudah dilirik oleh pemerintah Provinsi, dan sejak tujuh tahun lalu diwadahi oleh Pemprov, sebagai agenda nasional rutin pertahun. Sejak saat itu, Maras Taun yang asal muasalnya dari sebuah ritual adat yang sederhana, kini disulap menjadi sebuah wadah budaya lokal, yang sudah cukup mewakili identitas masyarakat Belitung. Agendanya sendiri berlangsung selama lima hari. Dari lima hari itu, disuguhi segala macam bentuk kebudayaan dan atraksi lokal, yang merupakan kebanggaan masyarakat Belitung.

Saya dikenalkan dengan orang yang paling tepat, jika diajak berbincang mengenai potensi budaya dan identitas bangsa Belitung. Kami berbincang di kedai pinggir dermaga kelurahan Selat Nasik. “Adat Belitung itu berbanding lurus dengan adat Melayu kuno. Ditilik dari sejarahnya, unsur Melayu itu sangat dominan perannya di dalam kehidupan kuno,” papar Pak Shofwan. Saat ini pak Shofwan menjabat sebagai Kepala Bidang Pemasaran Wisata Disbudpar Kabupaten Belitung. Tak heran kemampuan berkisahnya luar biasa, beliau adalah mantan guru. Kami berbincang panjang mengenai tata letak kebudayaan masyarakat Belitung, dan apa pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakatnya. “Yang namanya adat Belitung itu ya adat Melayu. Adat Melayu itu sendiri, sangat kental dengan pengaruh islam yang ada di pesisir Indonesia bagian Barat. Otomatis, budaya Belitung itu ya didasari oleh Islam yang kuat. Pada zaman dahulu, para pengurus adat boleh saja melakukan berbagai kegiatan sprirtual yang tidak dilandasi latar belakang agama. Namun kini, 100% ritual, dilakukan dengan cara Islam, dan ditujukan kepada Allah semata. Pengurus adat pun kini, adalah seorang Islam yang taat. Banyak dari pengaruh agama Islam, yang dijadikan dasar pemahaman budaya di Belitung.” Pak Shofwan berkisah banyak tentang harapannya terhadap acara Maras Taun ini. “ Acara ini, harus tetap dilestarikan. Biarkan bangsa kita yang berbicara tentang apa yang ada di dalam budaya Indonesia. Jangan sampai lah ritual-ritual ini nantinya dicuri oleh bangsa tetangga. Sebelum itu terjadi, maka mari kita persembahkan tradisi ini kepada banyak orang. Bangsa Indonesia itu harus bisa mensyukuri, dan yang lebih penting merawat sejarah dan budaya, agar jelas identitas bangsa ini mau dibawa kemana,” ujar Pak Shofwan, sambil menyeruput minuman hangat yang menemani obrolan panjang kami.

Dibandingkan dengan biasanya, malam minggu saya kali ini sangat berwarna, karena di hadapan saya sudah terbentang panggung hiburan malam, yang diatasnya sudah bertengger musisi-musisi melayu, lengkap dengan kostum adatnya yang kaya warna. Ini adalah tahun pertama Selat Nasik mendapatkan aliran listrik, yang tentunya sangat signifikan pengaruhnya. Itu juga dengan batasan waktu pukul 18.00 sore hingga pukul 06.00 pagi. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga meminjamkan beberapa generator yang memacu listrik agar tetap menyala. Sekitar pukul 21.00, para musisi mulai beraksi. Begitu bersuara, saya langsung mengenali pola musik rumpun melayu yang sangat kental. Nada-nada balada Melayu, mengayun merdu. Orang-orang mulai berkerumun di depan panggung hiburan, menyaksikan hiburan rakyat. Dari nada-nada yang dilantunkan, semuanya menggunakan pola nada musik Melayu. Saat menanyakan artinya kepada penduduk setempat, pelirikan musik yang disajikan juga mayoritas bercerita tentang acara maras taun itu sendiri. Beberapa lagu berkisah tentang harapan kesuburan dari Tuhan, rasa syukur atas karunia dan sebagainya. Formasi yang ada di panggung juga mayoritas terpusat di seksi ritmik. Sangat berbau Melayu, mengingat akar musik dangdut juga berpatokan kepada musik Melayu kuno. Di arena lapangan, juga terdapat tenda-tenda yang mewakili setiap kelurahan. Saya terpukau akan detail yang setiap kelurahan berikan, karena cukup banyak hal-hal yang unik dan berkarakter. Saya juga menemukan replika kapal yang dibentuk dari kayu, dan dijual dengan harga relatif murah. Para pengunjung juga memadati stand-stand kelurahan tersebut. Malam itu saya merasakan kehangatan yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya, dimana semua orang datang untuk satu tujuan, yaitu bersama-sama merayakan Maras Taun. Konsep dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat benar-benar diimplementasikan pada gelaran Maras Taun ini. Malam semakin larut, dan keriaan masih terus berlanjut hingga larut malam. Saya memutuskan untuk kembali ke mess dan menutup hari itu.

Keesokan harinya, acara diawali pada sekitar pukul 09.00. Hari ini spesial, mengingat Selat Nasik akan kedatangan tamu khusus, yaitu rombongan Gubernur. Saat tiba, hampir semua penduduk berkumpul di dermaga. Di gapura sudah menunggu panitia penyambutan, yang sudah siap dengan segala persembahan bagi rombongan. Kunjungan ini sangat berarti, menunjukkan support bagi event Maras Taun, dan juga wujud rasa peduli pemerintahan terhadap ritual tradisional. Rombongan datang, disusul dengan persembahan tarian menyambutan, yang diiringin oleh pemusik adat, lengkap dengan instrumen tradisional. Sebelum memasuki gapura, diadakan tradisi berbalas pantun oleh panitia penyambutan, dan juga perwakilan dari rombongan. Pantun adalah instrumen tradisional Melayu yang sangat unik, dan kali ini saya menyaksikan kegiatan berbalas pantun.

Rombongan Gubernur duduk di rumah adat dan ikut serta dalam agenda acara penutupan Maras Taun. Sambutan demi sambutan dari pihak-pihak yang terkait, dihaturkan. Uniknya, di setiap akhir sambutan, sebait pantun selalu dilayangkan. Terkadang mengundang tawa banyak orang, karena pantun-pantun yang dilayangkan mengandung kritik dan juga humor.

Prosesi menarik selanjutnya adalah pemotongan lepat. Lepat adalah makanan tradisional serupa dengan lontong, namun dibuat dengan menggunakan ketan. Ratusan lepat yang disediakan ditengah lapangan, nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Lepat yang ada mewakilkan berkat dan karunia yang diberikan Tuhan. Setelah itu juga ada atraksi Lesong Panjang. Lesong Panjang adalah sebuah atraksi musik yang memerlukan konsentrasi dan fokus, karena melibatkan beberapa orang yang harus mengoper kayu pemukul kearah yang berurutan.

Saya melirik kearah arloji dan sadar haru segera berkemas pulang, karena harus mengejar penerbangan kembali ke ibukota. Akhirnya saya harus meninggalkan keramaian itu. Berada di tengah-tengah event Maras Taun, mengingatkan saya kembali kepada akar kebudayaan bangsa Indonesia yang selalu harus dilestarikan. Maras Taun adalah salah satu dari sekian banyak ritual adat yang tersebar di Indonesia. Andaikan semuanya mendapatkan ekspos dan bantuan yang layak, dunia benar-benar akan tahu sehebat dan sekaya apa bangsa kita.

Facts: atraksi tradisional yang ada di Belitung

· Campak Darat: Tari hiburan rakyat yang dibawakan dua atau empat penari wanita dan pria yang saling bergantian mengiringi.Biasanya disertai dengan berbalas pantun, dan dimeriahkan oleh alat musik tawak, gendang dan biola

· Lesong Panjang: Alat dan permainan, yang biasanya dimainkan saat musim panen padi tiba. Alat utamanya adalah sebuah lesong atau kayu pilihan yang bersuara jernih dan keras. Lesong akan dipukulkan dengan Alu, kayu panjang, dan dilemparkan secara akrobatik oleh para pemainnya. Biasanya terdiri dari 4 orang.

· Beripat: Sejenis permainan adu ketangkasan, dengan menggunakan rotan sebagai alat pemukul. Diiringi oleh bunyi-bunyian yang terdiri dari musik pukul yang bernama kelinang (sejenis gamelan dan gong)

· Begubang: adu pantun nasehat yang terdiri dari 4 orang, biasanya ditampilkan pada acawa kawinan.

· Dulmulok: Drama tradisional dalam bahasa Melayu, diiringi musik melayu

Facts: Jadwal kegiatan Acara Maras Taun 2010 kecamatan Selat Nasik

· Rabu 14 April 2010: Selamatan Awal Maras Taun, hiburan Campak

· Kamis 15 April 2010: Lomba Dayung Sampan, lomba lagu daerah Gabus,

· JUmat 16 April 2010: Hadra Sembilan, Lesong Panjang, Campak Darat

· Sabtu 17 April 2010: Lomba memancing, Lomba panjat Pinang, Begudang, Dul Mulok, Beripat dan Stambul fajar

· Minggu 18 April 2010: Acara puncak Maras Taun dan malam penutupan berupa orkes Melayu.


Lepat yang dijadikan persembahan

Hiburan Rakyat

penumpang yang mendatangi maras taun

Seandainya Anda seorang bajak laut, maka Anda tidak akan pernah tahu harta karun seperti apa yang bisa Anda temukan di tengah-tengah Indonesia bagian tengah.

Saya harus sedikit mengutak-atik jam di telepon selular saya, karena menurut suara pramugari Trans Nusa, Sumbawa mempunya zona waktu yang berbeda dengan Jakarta. Maka saya dan tim harus menambahkan 60 menit di setiap alat penunjuk waktu. Saya sengaja tidak membawa arloji, takut penyakit kambuhan saya – yakni ceroboh tak bertanggung jawab – kambuh dan akhirnya harus menyesal karena saya meninggalkannya entah di mana.

Ohya, Trans Nusa adalah nama penerbangan saya, yang mendaratkan saya dan tim sampai di Brang Biji. Brang Biji adalah nama airport empunya daerah Sumbawa, terletak di pusat kota di Sumbawa besar. Umurnya masih tergolong balita, sehingga keadaan dan fasilitias yang ada di situ tak ubahnya kantor tata usaha sekloha negeri, dimana peralatannya sangat amat minim. Namun untuk ukuran realitanya, Brang Biji merupakan sebuah anugrah bagi daerah Sumbawa. Dulu, setiap tamu yang hendak datang ke Sumbawa harus jauh-jauh dijemput ke daerah Bima. Sangat merepotkan. Jadwal penerbangan Trans Nusa juga ibarat perangai wanita. Susah ditebak. Terkadang delay 2 jam, tapi di hari lain bisa berangkat lebih cepat 30 menit.

Tidak sulit mencari jalan keluar di Brang Biji, hanya ada satu ruangan arrival dan tidak lama setelah itu saya sudah bersalaman dengan supir saya dan tim selama di Sumbawa. Namanya pak Zul. Perawakan gempal tapi berotot, mata sayu sipit dengan kulit sawo matang. Beliau juga yang memukul gong petualangan saya dan tim dengan melontarkan pertanyaan mendasar yang setiap traveling journalist inginkan: “Mau kemana nih kita pak? ” maka kami langsung mengeluarkan carikan kertas yang berisi hasil riset dan paparan jadwal ketat yang harus dipatuhi, demi menghasilkan tulisan berbobot baik. Mengingat perjalanan ini harus berbuah laporan utama edisi agustus, maka setiap langkah yang saya dan tim ambil, harus diperhitungkan matang-matang. Here we go.

(Sebenarnya saya sangat ingin melanjutkan cerita dengan mempertahankan gaya deskripsi, tapi sepertinya akan terdengar sangat melantur. Jadi, saya memutuskan untuk lebih menyingkat pemaparan yang ada)

Saliper Ate

Adalah pantai umum yang ada di Sumbawa besar. Dari airport Brang Biji tidak kurang dari 10 menit perjalanan. Saliper ate adalah objek liputan saya yang pertama di Sumbawa. Dan seperti pantai-pantai umum lainnya, Saliper Ate sama sekali tidak didandani oleh pemerintah daerah. Anda dikenakan biaya Rp.2000 rupiah untuk masuk ke area ini. Kebanyakan dari pengunjung adalah masyarakat lokal, yang hendak menikmati angin pantai dan sekedar membuang waktu. Di sebelah timur pantai ini terdapat wahana rekreasi air. Seperti waterbom, versi 10 tahun yang lalu. Yang menjadi pernak-pernik di pantai ini adalah kondisi sampahnya tang tidak terurus. Bila Anda menelusuri pantai ini ke sebelah kiri, maka Anda akan menemukan beberapa kontur pantai yang menarik, namun tidak sampai meraih predikat spesial.

Di pantai ini juga biasanya banyak kegiatan atau program resmi pemerintah dilaksanakan. Saat saya tiba, terdapat di Saliper Ate tepat malam itu adalah malam final dari Taruna Dedara. Taruna Dedara adalah Abang None versi tanah Sumbawa. Beberapa kontes yang menarik, adalah mereka (para peserta) harus bisa beradu lawas, pantun asli Sumbawa. Acara ini adalah bagian dari pekan budaya Samawa (Samawa diartikan sebagai Sumbawa, menurut cara eja orisinil bahasa daerah Sumbawa). Selama pekan budaya ini, dilancarkan berbagai atraksi budaya Sumbawa. Salah satu yang menarik adalah akulturasi musik tradisional dan juga modern dengan cita rasa asli Sumbawa.

Kencana Resort

Beranjak dari Saliper Ate, kami singgah sebentar di Kencana Resort, dimana Anda bisa melihat pemandangan dari tanjung menangis. Nama unik tanjung menangis lahir dari cerita lokal, yang melibatkan putra raja, putri raja dan juga (tentunya) asmara. Saya agak malas menceritakan cerita lengkapnya. Di kencana Resort, Anda bisa ke tengah pantai dan diving. Bila enggan menahan nafas terlalu lama, maka Anda cukup membentangkan kail dan menarik ikan-ikan gemuk dan segar. Memancing juga merupakan pilihan menarik, saat singgah di kencana resort.

Labuhan Samawa

Di tempat inilah, para nelayan menumpahkan ikan-ikan tangkapannya, sekaligus saya menyaksikan sunset pertama di Sumbawa. tidak memakan waktu lama sampai saya benar-benar terkesima atas tenggelamnya surya sore itu. Labuhan Samawa terletak dibelakang pemukiman, maka Anda harus masuk sedikit kedalam pemukiman untk mencapainya.

Sore itu, Labuhan Samawa sama sekali tidak cantik. Namun di hadapannya, matahari tenggelam membuat perhatian semua orang tertuju pada satu, sunset. Labuhan Samawa bukan tempat rekreasi umum, namun karena menjadi bagian dari pemukiman, maka sore hari merupakan waktu dimana anak-anak kecil bermain riak ombak kecil dan para orang tua menghirup udara sore yang segar.

Sunset sore itu menutup hari dan mengundang malam. Edo, tandem fotografer saya berpesta dengan lensanya. Beberapa kali menjepret, dan kami sudah siap untuk beranjak ke destinasi berikutnya.

+++

moncong mobil taruna kami mengarah ke hotel Tambora. Perjalanan yang lumayan heboh, membuat kami bertiga harus mandi

Restoran Goa

Yak, waktu untuk berbincang banyak mengenai apa yang ada di Sumbawa, dan tentunya mulai untuk culinary Review.

Pembicaraan panjang saya dengan Pak Didi, berbuah banyak informasi. Pak Didi bercerita karakter masyarakat Sumbawa yng jauh lebih bisa menjag emosi, dibandingkan tetangga-tetangganya di Lombok dan NTB. Untuk masalah pariwisata, Sumbawa masih kerdil sekali perkembangannya. Pemerintah Daerah juga tidak pernah menunjukkan dukungan nyata, karena yang ada hanya minta uang saat sebuah situs pariwisata sudah rampung dan berhasil. Ah memang cerita klasik berbicara dukungan pemda mengenai pariwisata. Apalagi di daerah Sumbawa, yang masih belum sepopuler tempat-tempat lain.

+++

Sepat, merupakan sebuah sup ikan berkuah segar, dengan kombinasi daun-daunan gurih dan juga terong segar yang di celupkan bersama. Makanan itu lumayan menghardik saya dan menggiring mata saya untuk semakin berat dan terlelap.

+++

bangun tidur untuk hunting sunrise ternyata bukan perkara mudah. Setengah 4 pagi untuk keluar pintu hotel dan berseluncur langsung menuju Ai Bari. Ai Bari adalah pemukiman di tepi pulau Sumbawa, yang lokasinya terdekat dengan Pulau Moyo, destinasi berikutnya. Supir saya bercerita bahwa sunrise di Air Bari sangat indah, karena pancaran dari mataharinya penuh dan sangat kuning. Tanpa pikir panjang maka kami mengangguk setuju untuk menjajal sunrise. Tapi saya menggeleng keras di mobil. Perjalanan subuh itu sangat menyiksa. Disamping meda jalan yang sangat menyedihkan, mata saya sangat mengantuk. Tapi mata saya bukan lagi menjadi masalah saya ketika tiba untuk hunting sunrinse. Yang menjadi masalah adalah keindahan tidak terbatas dari pemandangan yang ada di hadapan saya, pagi itu.

+++

Seusai sunrise, maka saya bergegas untuk datang ke tepi pantai di Ai Bari, untuk dijemput oleh kru dari Amanwana Resort. Satu dan dua seduh pop mie, and off we go. Speed boat, full speed dan momen pertama yang membuat saya lumayan berpikir panjang adalah, tiba-tiba si supir speed boat mengeluarkan sandwich dan menawarkan sarapan. Wow, sangat detail. Perjalanan dari Ai Bari, memakan waktu kurang lebih 40 menit. Hati saya berdebar. Biasanya di momen-momen ini, saya berdebar karena terlalu bersemangat, dan mempunyai firasat akan menghadapi sesuatu yang spesial.

Amanwana

Dari tengah laut, Amanwana tidak terlalu spesial. Masih lebih spesial biru laut yang mewadahi perjalanan speedboat saya. Tapi begitu mendekati dermaga, saya melihat sebuah tempat tanning dan berjemur yang benar-benar terletak di mulut pantai. Saya menepi di dermaga panjang yang menggawangi Amanwana resort. Di samping boat saya, ada pesiar mini yang menjauh menuju laut. Satu keluarga, yang berasal dari Inggris, yang sedang berlibur.

Terdamparlah saya di Amanwana. Resort kelas dunia dimana Mick jagger, Lady Diana dan Bill Gates pernah bermalam disana. Disambut oleh jabatan tangan dari para beach boy Amanwana, saya masih berdecak kagum atas pemandangan yang menyambut kedua mata saya. Pulau Moyo yang kerap dibicarakan oleh seluruh pecinta dunia traveling, kini saya pijak. Pasir putih permadani buatan yang maha kuasa, mencari celah diantara kedua kaki saya tatkala berjalan ke dalam Amanwana.

Pak Wilda, manager operasional menyambut kami dengan hangat. Pakaian kerja pegawai di Amanwana sangat mencuri perhatian. Dengan celana kargo pendek berwarna krem, dipadupadankan dengan kemeja putih, berhias bros yang menjelaskan identitas mereka. Pak Wildan tidak banyak bertele-tele dan langsung mengatur jadwal, agar semua fitur dan fasilitas yanga da di Amanwana bisa kami liput, dalam semalam.

Menurut saya, apa yang menjadikan Amanwana spesial adalah pelayanannya, dan kecintaannya terhadap detil. Detil-detil ini yang kemudian menyita perhatian saya, karena tamu jadi merasa sangat spesial, atas detil yang diberikan oleh Amanwana.

Saya beserta tim ditemani Pak Wilda langsung menuju tempat liputan pertama di Amanwana, yaitu Fasilitas spa beach view. Intinya tempat ini adalah Spa yang dibuat tepat di pinggir pantai, jadi Anda akan menikmati pemandangan laut lepas yang menakjubkan, sembari menikmati fasilitas Spa dari Amanwana. Untuk meraih tempat ini, Anda harus jalan kaki barang 10 menit dari area penginapan Amanwana. Alam yang masih sangat dijaga oleh Amanwana, tidak akan membuat Anda bosan. Bergerak sedikit dari Spa Beach View, Anda akan menemukan Music Lounge. Music Lounge adaleh area khusus bagi para konsumen di Amanwana, yang ingin mendengarkan lagu dengan bebas. Bukannya tidak boleh, hanya saja di Amanwana dan Pulau Moyo, keheningan, ketenangan adalah salah satu andalan mereka, dimana Anda tidak akan menemukan suara lain kecuali bunyi riak ombak mungil dan suara nafas Anda. Music Lounge di desain sangat apik, menyediakan dua buah kasur nyaman, dengan sound system berkualitas baik, sumber suara dari Ipod dengan pilihan lagu update yang menarik. Balai Music Lounge juga langsung mengarah ke laut lepas, hingga Anda bisa merasakan telinga Anda digempur oleh suara ombak dan musik sekaligus.

Beranjak dari Music Lounge saya dan tim langsung berangkat dengan speedboat menuju honeymoon private beach. Ini juga fasilitas yang menurut saya sangat detil dan spesial. Bayangkan saja Anda dan kekasih bisa menghabiskan hari Anda di sebuah pulau pribadi yang tidak berpenghuni. Dilengkap dengan sebuah tenda, dua buah tempat tidur, kotak makanan, radio dan kotak p3k, Anda bisa dengan bebas berbuat apasaja di Pulau itu. Tim Amanawan akan memberikan Anda sebuah Handie Talkie, yang dapat digunakan untuk berkomunikasi, bila seandainya Anda sudah mau menyelesaikan petualangan di pulau pribadi dan dijemput oleh speedboat kembali. Super Cool!

Setelah itu kami langsung menuju Air terjun. Untuk sampai disana, saya dan tim harus kembali membelah lautan dengan speedboat, lalu masuk desa tradisional, dan menaiki 4 wheeler dan menerabas masuk hutan selama sekitar 30 menit. Setelah sampai di tengah-tengah hutan, kami masih harus trekking berjalan kaki untuk masuk lagi. Terbayar lelah kami dengan kondisi air terjun yang masih sangat amat alami. Anda bisa melihat dasar laut, dikarenakan kejernihan air yang membius mata. Air terjun ini mempunyai bentuk bertingkat-tingkat, yang membuatnya semakin cantik. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama. Guide kami mengeluarkan beberapa buah-buahan dari tasnya, dan menawarkan kami untuk menyantapnya. Sungguh menenangkan.

Sepulang dari air terjun, kami langsung hunting sunset. Kami menuju ke tengah laut dengan kapal besar, dan menunggu sang surya tenggelam. Sore itu sangat menghanyutkan. Kondisi ombak yang bersahabat dan tiba-tiba pengemudi kapal saya mengeluarkan sebotol bintang dingin dan setoples kacang. Sangat pas. Maka kami menghabiskan sore itu dengan berbincang banyak, lalu berpesta merayakan indahnya tenggelam matahari.

Pulang kembali mendekati daerah penginapan Amanwana, saya sudah ditunggu untuk menikmati bersantap malam. Konsep santap malam yang ditawawkan kepada saya dan tim adalah barbeque, dipinggir pantai. Saat itu saya seringkali berkeluh kepada Pak Wilda karena saya menikmati suasana Amanwana, tanpa kehadiran seorang wanita. Maka pada saat dinner, Pak Wilda memboyong Grace, perempuan menarik yang bertugas sebagai tim medis di Amanwana. Maka melayanglah pembicaraan kami sepanjang dinner malam itu. sampai akhirnya Pak Wilda mengambil wine yang masih bersisa, dan menjamu saya dan tim untuk mencicipi winenya, sambil bercengkerama.

+++

besok paginya saya sudah harus beranjak kembali ke Sumbawa besar, untuk melakukan perjalanan panjang melanjutkan liputan. Sekitar jam 1 siang saya sudah berada kembali di tanah Sumbawa.

Desa Taloa

Adalah desa dimana banyak dari penduduknya mempunyai pekerjaan sebagai petani dan pengrajin parang. Parang adalah sejenis kapak. Parang dari desa Taloa menjadi terkenal karena ketajaman dan kualitasnya yang tahan lama. Saya menyaksikan langsung pembuatan parang, yang menggunakan pompa manual. Sangat menarik.

Desa Poto

Lain hal dengan desa poto. Hampir semua penghuni dari desa ini mempunyai alat tenun, dan memproduksi berbagai hasil kain tenun, yang nantinya akan dijual kembali. Kisaran harganya Rp 100.000 – Rp.300.000. biasa dijual ke pasar, atau pemesan tunggal. Menariknya, setiap alat tenun yang ada merupakan hasil warisan turun temurun, yang umurnya mungkin sudah puluhan tahun. Si empunya alat tenun tidak tahu sudah berapa generasi diwariskan alat tenun tersebut. saya menikmati suasana alami yang ada di desa tersebut. untuk mencapai sekolah public, para anak-anak di desa Poto harus mencapai perjalanan sampai 50 km.

Semongkat

Merupakan daerah dataran tinggi. Ditempuh dengan waktu perjalana sekitar 3 jam dari Sumbawa Besar, ternyata daerah Semongkat hanya menyimpan stok udara dingin, dan kawasan pemandian umum yang sudah kering. Tidak hanya itu, environment yang kurang terawatt, membuat saya dan tim cepat-cepat merekonstruksi jadwal perjalanan. Yang menarik di situ hanyalah kawasan tepal. Kami tidak bisa mencapai daerah itu dikarenakan mobil yang tumpangi tidak kuat untuk bisa menempuh medan tepal. Di daerah tepa ada pedesaan tradisional, ang masih terjaga alamnya. Konon Anda harus menempuh perjalanan 2 hari, untuk bisa tiba di tepal. Itu juga dengan mobil 4x4 yang kondisinya baik.

+++

tidak berlama-lama di daerah semongkat, kami langsung meluncur ketujuan berikutnya, Sekongkang

Sekongkang, Pantai Maluk

Kami beranjak dari semongkat pukul 4 sore, dan perjalanan sampai ke daerah sekongkang memakan waktu 7 jam. Maka jadilah kami sampai di sekongkang dengan larut malam. Kami menginap di tropical beach resort. Untuk ukuran sebuauh penginapan lokal di ujung dunia, TBR adalah yang kualitasnya mumpuni. Sayang sekali interiornya yang sangat 90an membuat kesan TBR menjadi ‘biasa’ saja. Disamping itu, TBR adalah persinggahan para peselancar dari seluruh dunia yang sudah mual ke Bali dan Lombok. Mereka yang mencari sesuatu yang baru, akan haus untuk mencari tempat-tempat seperti ini. Keindahan pantai Sekongkang memang teruji. Saat saya datang, ada beberapa turis yang berusaha menaklukkan ombak-ombak. Pak Lalu, bercerita banyak mengenai perkembangan daerah Semongkat dan juga hotel yang dia kelola. Pada awalnta Tropical Beach Resort hanya diperuntukkan bagi para pegawai PT. Newmont (Perusahaan Asing yang bermukim di Sumbawa, kebanyakan dari pegawainya berasal dari luar Indonesia). Penginapan tersebut hanya didatangi oleh pegawai Newmont, tetapi kemudidan pihak manajemen memutuskan untuk membuka TBR untuk umum. Mulai saat itu mulai berdatangan tamu-tamu asing lainnya. Pantai ini terkenal akan pantainya, maka tidak heran bila para turis datang untuk menjajal ombak.

+++

lalu kami kembali beraksi di Sumbawa besar.

Liang Petang

Ini adalah liputan terakhir kami. Menutup petualangan anti jengah di Indonesia tengah. Kami masuk ke desa Batu Tering, dimana penduduknya jarang melihat mobil dan pakaian formal membuat kita terlihat seperti alien. Objek liputan kami ada dua, yakni sarkofagus dan gua liang petang. Ya, Sarkofagus. Selama ini saya hanya tahu nama ini dari pelajaran sejarah sekolah dasar, dan saya menyaksikannya sendiri. Sarkofagus itu menjadi dilindungi oleh pemerintah, karena banyak orang hendak mencuri dan menjualnya. Berumur jutaan tahun yang lalu, sarkofagus dipercaya sebagai bentuk makam dari manusia purba. Kami masuk ke dalam area sarkofagus dengan motor trail. Kami dijemput oleh Sumbawa Motor Adventure Club (SMAC). Kondisi jalan menuju sarkofagus tidak memungkinkan mobil masuk kedalam. Sekitar 30 menit menembus hutan dengan bantuan motor trail, kami akhirnya masuk ke area sarkofagus. Ada sebuah gubuk dimana penjaganya bermukim. Pak Suharto, yang dikenal menjabat sebagai Kapolres di Sumbawa, juga hadir sebagai salah satu anggota dari SMAC. Di Sarkofagus ada pahatan-pahatan menarik yang berbentuk muka manusia, tubuh manusia dan buaya. Ajaib mengingat sarkofagus ini dibuat jutaan tahun yang lalu, sebagai makan manusia purba. Sekitar 15 orang rombongan tim saya beserta SMAC, langsung menuju destinasi berikutnya, gua liang petang. Trekking terjal kembali menuju lebih pedalaman hutan, dimana terdapat gua, dengan bebatuan karang yang hanya terdapat di laut. Aneh? Pasti. Menurut pak gede – salah satu anggota rombongan SMAC, dulu perairan menutupi gua ini, dan saat menyurut, maka jadilah temoat ini sebuah gua.

Bisa dibilang masuk ke dalam gua Liang Petang ini adalah pengalaman saya di Sumbawa yang paling mengerikan. Bayangkan, masuk ke dalam gua sedalam kurang lebih 200 meter, dengan track bebatuan tajam, lubang-lubang kecll. Tanpa bantuan cahaya sedikitpun kecual senter menyenter, saya sang berhati-hati memasuku Liang Petang. Di dalam gua itu, penutup dari perjalanannya adalah sebuah telaga di dalam gua! Sangat alami dan indah. Bilsa sekali saja saya terpeleset atau kehilangan konsentrasi, bukannya tidak mungkin saya terpeleset dan kehilangan nyawa. Near death experience!

Menghela nafas saya ketika berhasil keluar di gelapnya malam , dari Liang Petang. Lalu kami trekking kembali ke bawah, berjalan ke arah pulang dan terlelap dengan mudahnya.

+++

seperti biasa, membuka mata dengan sulit, memaksakan baju kotor masuk kedalam ransel dan menunggu di depan ruang tunggu Bandara Brang Biji.

Sudah jelas 5 hari di Sumbawa, mata saya dipertunjukkan sesuatu yang sama sekali tidak biasa. Keindahan, keaslian dan penghargaan kita kepada alam, mungkin adalah salah satu yang membuat kita masih menjadi manusia. [teguhwicaksono]

pasangan lumba-lumba di perjalanan menuju amanwana

anda hanya tinggal melemparkan sebuncah roti dan ini yg akan terjadi

Sunrise di labuhan Samawa

sunset
beberapa sajian khas Sumbawa


Project #2: Thai Cuisine

Kalau ditanya apa yang paling saya suka dari Thailand,
jawabannya adalah MAKANANNYA!

Yap! Jajanan Thailand beragam dan tersebar di mana-mana, layaknya di Indonesia yang di pinggir jalan pun bergelimpangan pedagang makanan. Selain soal makanannya, pantai dan daerah jajahan belanja di Thailand pun cukup terkenal. Sebut saja Bangkok untuk surga belanjanya, lalu Phuket dan Krabi untuk pantainya yang luar biasa KEREN!
(Bukan berarti saya gak cinta sama negara sendiri, tapi keindahan pantai di Thailand patut diacungi jempol.. PLUS.. pemerintahnya pun gak sete
ngah-setengah untuk mempromosikan pariwisata di negaranya)

Oke.. Lanjut soal kuliner di Thailand. Setelah beberapa kali k
e sana, ternyata saya hanya mampu mengumpulkan sedikit dari foto-foto kuliner yang sempat saya dokumentasikan. Sisanya menurut saya agak kurang layak di publish, karena hasil gambar yang ternyata gak begitu bagus. Hehehe. Tapi percaya deh, walaupun cuma segelintir.. dijamin bakalan bikin ngiler! :D

Untuk makanan khas Thailand, saya kurang begitu suka Tom Yam Goong. Karena masakan ini sudah begitu "mendunia", setelan lidah saya untuk masakan yang satu ini seringnya tidak sesuai selera. Mungkin karena di tiap daerah, disesuaikan dengan lidah penduduk setempat. Jadilah saya gak begitu paham dengan rasa aslinya.

Tapi jangan khawatir, saya punya masakan favorit yang WAJIB dicoba jika anda bepergian ke Thailand, namanya.. Tom Kha Gai! Beda dengan Tom Yam Goong yang rasanya asam pedas dan terkadang agak manis, dengan kuah yang bening.. Tom Kha Gai berkuah santan putih gurih dengan ramuan bumbu yang segar dan pas. Pilihan Tom Kha Gai pun tergantung selera, ada ayam atau seafood.

Selain itu, masakan Thailand juga terkenal dengan berbagai macam jenis KARI-nya.. ada 3 macam yang terkenal yaitu Red Curry (bahan dasar terbuat dari cabe merah dikeringkan),Green Curry (terbuat dari cabe hijau kering dan ditumbuk dengan bumbu-bumbu lain), dan Yellow Curry (rasanya tidak begitu berbeda dengan kari dari India dan Pakistan).

Kuliner yang pastinya wajib dicoba adalah Pad Thai (sering juga disebut Glass Noodles), mie goreng ala Thailand dengan campuran seafood (bisa juga ayam, sapi, atau babi), toge, sayuran, kacang tanah, dan dried chilli. Sangat amat.. Yumm Yumm! Ini makanan wajib saya di tiap kesempatan. Tersebar di tiap restoran sampai ke pedagang kaki lima pinggir jalan :D

Kuliner lain juga baru saya eksplorasi setelah terakhir kali saya ke Thailand adalah Salad Ala Thai. Daging giling dimasak dengan sedikit sayur-sayuran diracik dengan bumbu segar. Rasa yang mendominasi adalah segarnya sari jeruk nipis/limau. Enaknya.. WUIH! Bikin saya gak bisa berhenti ngunyah :P


Pineapple Fried Rice
Minced Beef Salad Ala Thai
Chicken Green Curry
Dried Green Curry With Chicken and Basil
Dried Yellow Curry Fried Rice
Deep Fried Garlic Pork
Tom Kha Gai
Beef In Red Curry Paste (with dried chilli)
Squid In Oyster Sauce
Deep Fried Garlic Red Snapper
Fried Kway Teaow
Beef In Red Curry Paste


Nampaknya masih akan ada postingan kedua mengenai kuliner Thailand. Saya harus obrak-abrik folder foto-foto dulu nih. Hehehe.. Duh! Jadi laper..


A.

Project #1: Nanny's Pavilion

Review pertama Papila jatuh kepada..
(drumroll)

Nanny's Pavilion!

Yak! Saya merupakan penggemar berat waffle dan pancake. Seringkali saya merengek untuk makan di sini, apalagi kalau saya lagi heboh-hebohnya ngidam makanan manis. Waffle Oreo and Caramel-nya selalu sukses bikin saya ketagihan! Ini baru namanya definisi lidah bergoyang.. Yumm.. Pilihan kedua saya biasanya jatuh kepada Peanut Butter and Caramel Waffle. Campuran rasa gurih manis selai kacang berpadu dengan manis karamelnya, terasa sangat pas di lidah! Nyaamm nyaaamm..

Selain pancakes dan waffles, Nanny's Pavilion juga menyediakan menu pasta, steak, baked rice, snack, dan salad. Favorit saya setelah pancakes dan wafflesnya adalah baked rice. Pandangan pertama melihat porsi baked rice-nya saya merasa kalau porsinya cukup sedikit. Tapi ternyataaa.. mengenyangkan! Baked rice nanny's kaya akan cream cheese, home made sauce yang luar biasa lezat, dan topping sesuai tema menunya.. ditambah mozarella cheese yang meleleh. Sangat menggugah selera! (Sekali lagi) Yummm!!

Setelah beberapa kali makan di sini, ternyata foto yang saya kumpulkan tidak terlalu banyak. Tapi cukup membuat ngiler kok! :)


Nanny's Pavilion buka setiap hari dari pukul 09.00-23.00. Sabtu-Minggu buka lebih cepat sejak pukul 08.00 pagi. Bagi yang berniat untuk berkunjung ke sini saat akhir minggu, siap-siap untuk mengantri karena biasanya tempat ini ramai pengunjung.
Perkiraan pengeluaran untuk makan per orang sekitar 55.000-100.000 (untuk seporsi makanan dan minuman). Jadi persiapkan dana ekstra, kalau kalap untuk mencoba seluruh menunya yaa :P


Selamat mencoba!

A.


Nanny's Pavillon
(Black Market Factory Outlet)
Jl. R.E. Martadinata / Jl. Riau No. 112
Tel. (62 22) 4271537
Bandung

Nanny’s Pavillion
Citiywalk Sudirman, Ground Floor Unit 21,
Jln. KH Mas Mansyur Kav. 120, Jakarta Pusat
Telepon: (021) 25556779

Papila Project

Halo!

Ini merupakan postingan pertama dari Papila. Postingan yang terbilang basa-basi karena Papila masih akan dirombak sana sini, terutama bagian templates dan desain blognya karena saya sendiri masih bingung. Hehehe. (Maklum, blog baru. Masih getol didandani)

Papila Project ini merupakan kolaborasi saya, Astrid A. Ramadhina biasa disapa Achyt. Dan partner saya Teguh Wicaksono biasa dipanggil Teguh.

Sedikit cerita soal awal mula terbentuknya ide pembuatan blog ini karena hobi kami berdua dalam hal jalan-jalan yang pasti berujung pada icip-icip makanan plus hobi kami dalam mendokumentasikan hasil buruan (baca: makanan & jajanan).

Voila!
Jadilah Papila Project! :D


Kenapa diberi nama Papila?
Karena Papila merupakan ciptaan Tuhan yang paling berjasa bagi kami di ajang icip-icip makanan ini. Nama yang lebih merakyat untuk Papila adalah "lidah". Akhirnya diputuskan nama Papila Project untuk proyek icip-icip dan jalan-jalan kami berdua ini.

Yah yah..
Seperti akhir dari kebanyakan "basa-basi" yang ada, semoga isi dari blog ini bermanfaat bagi yang membacanya :)

Cheers, peeps!


A.